Biografi - Pangeran Diponegoro, Inspirasi yang Menginspirasi

Tidak hanya benda estetika belaka, tanpa terasa lukisan Pangeran Diponegoro telah menjadi inspirasi bagi Bangsa dan Negara.

Dari manakah kita mengenal sosok Pangeran Diponegoro yang melegenda? Apakah dari buku-buku pelajaran sejarah? Atau dari patung-patung Beliau yang berada di sudut-sudut kota? Jika iya, tahukah jika sesungguhnya citra yang tergambar dalam buku maupun patung tersebut sesungguhnya terinspirasi oleh lukisan Pangeran Diponegoro, karya Basoeki Abdullah?

Sedari kecil Basoeki Abdullah adalah sosok yang sangat mengagumi tokoh-tokoh yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negaranya, salah satunya adalah Pangeran Diponegoro. Pahlawan yang telah menjadi bagian hidup dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia ini sedikit banyak telah menginspirasi Basoeki Abdullah dalam berkarya. Selain tentunya kekaguman Beliau akan kegigihan Pangeran Diponegoro yang pantang menyerah menentang penjajahan Belanda.

Lukisan Diponegoro Memimpin Pertempuran karya Basoeki Abdullah menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro dengan pakaian dan  memakai sorban dengan warna putih kecoklatan  serta menyertakan keris yang berada di bagian depan, bukan tersembunyi di belakang. Selain itu digambarkan Pangeran Diponegoro sedang menunggangi kuda berwarna hitam yang berlari kencang dengan tangan yang menunjuk dengan jelas arah tujuan dan dipertegas dengan tatapan mata yang tajam.

Karya ini merupakan salah satu karya Basoeki Abdullah yang dibuat dengan berdasarkan imajinasi Beliau saat proses melukisnya. Visualisasi Pangeran Diponegoro menaiki kuda yang berlari tampak terlihat nyata dan seolah-olah saat itu Basoeki Abdullah hadir disana dan melukis peperangan tersebut. Padahal tentunya saat itu Basoeki Abdullah tidak berada di lokasi terjadinya perang tersebut. Terlebih lagi dalam mereka paras Sang Pangeran. Kemungkinan citra-citra tersebut ditangkap dan disampaikan dalam kanvas karena sebagai keturunan Kerajaan Mataram, Basoeki Abdullah, yang semasa kecil hidup di lingkungan kesultanan Yogyakarta dan Surakarta , mendapatkan cerita dan penggambaran sosok Pangeran Diponegoro dari lingkungan dua istana tersebut lebih daripada masyarakat umum saat itu.

Sebagai sebuah karya, lukisan Diponegoro Memimpin Pertempuran ini terasa begitu heroik, sehingga menimbulkan semangat kebangsaan saat meresapinya. Gestur tubuh Pangeran Diponegoro dengan keris, sebuah senjata tradisional asli Indonesia yang terpampang di tubuh bagian depan Sang Pangeran menyiratkan suatu keyakinan, keteguhan, dan tujuan yang jelas dalam peperangan tersebut, yakni berani menentang dan dan mengenyahkan penjajahan yang dilakukan Belanda di Pulau Jawa (Indonesia). Cita-cita tersebut juga turut dipertegas dengan pakaian ulama berwarna putih bersih yang dikenakan Pangeran Diponegoro, yang menyimbolkan niat mulia dan hati yang bersih dalam memimpin perjuangan dalam pertempuran melawan Belanda.

Semangat perjuangan pun semakin dipertegas oleh Basoeki Abdullah dengan penggambaran latar belakang lukisan yang berupa kobaran api yang dapat diinterpretasi sebagai semangat perjuangan Pangeran Diponegoro yang tak pernah padam dalam melawan penjajah. Selain itu momen ketika Pangeran Diponegoro menaiki kuda yang berlari di tengah kobaran api juga dapat menunjukan keteguhan hati Sang Pangeran dalam perjuangan untuk mengusir penjajah, meskipun begitu banyak aral rintangan yang menghadang.

Lukisan Pangeran Diponegoro karya Basoeki Abdullah bukan hanya sekadar benda estetika belaka. Goresan tangan Basoeki Abdullah tersebut telah menginspirasi banyak pihak sehingga sampai detik ini kita dapat mengetahui sosok Pangeran Diponegoro dan meneruskan semangat perjuangannya melalui buku-buku sejarah, dan bahkan pada patungnya yang terletak di kawasan Monumen Nasional. Lebih dari pada itu, melalui lukisan ini Basoeki Abdullah menyampaikan semangat perjuangan yang tak akan pernah padam dalam berjuang demi kemerdekaan, hingga titik darah penghabisan. Nilai inilah yang sebenarnya merupakan harta warisan yang sesungguhnya dari lukisan tersebut, yang ingin dibagikan kepada seluruh generasi yang hingga kini menyaksikannya.