Biografi - Menyelisik Kisah Pameran Awal Basoeki Abdullah

Bas, dengan lukisan ini kamu akan dapat berkah, “ ujar Raden Mas (R.M) Sosrokartono, kakak dari Raden Ajeng (RA) Kartini, kepada Basoeki Abdullah, saat berkonsultasi mengenai lukisannya yang akan dipamerkannya pada sebuah pameran di Bandung.

Pameran yang akan diikuti oleh Basoeki Abdullah tersebut berlangsung di Jaarbeurs, atau Pameran Dagang Bandung. Untuk seorang Indonesia, kesempatan tersebut sangatlah langka karena biasanya yang mengikuti pameran Jarbeeurs hanyalah pelukis-pelukis asal Eropa saja. Namun seolah-seolah mematahkan “hukum” tersebut, Basoeki Abdullah, pun turut mengikuti pameran di gedung yang sekarang beralih rupa menjadi Markas Komando Pendidikan dan Pelatihan (MAKODIKLAT ) Komando Daerah Militer III/Siliwangi. 

Gedung Jaarbeurs pada tahun 1920-an *sumber foto: IstimewaGedung Jaarbeurs pada tahun 1920-an
*sumber foto: Istimewa

Semua berawal dari keikutsertaan Basoeki Abdullah dalam pameran pada sebuah pasar malam di Bandung, tahun 1933. Lukisannya yang bermodelkan adiknya sendiri, Trijono, banyak dikagumi oleh wartawan dan pengamat seni lukis, salah satunya Romo Koch, SY, yang berjanji akan mengusahakan Basoeki Abdullah untuk belajar di Belanda. Belajar di Belanda sendiri merupakan cita-cita Basoeki Abdullah, karena menurutnya untuk mengalahkan Belanda harus dengan ilmu dari Belanda. Semenjak itulah sosok Basoeki Abdullah mulai diperhatikan oleh orang-orang, terutama bangsa Eropa.

Adalah Prof. Wolff Schoemacher, seorang guru besar atanomi di Technische Hoogeschool, Bandung, yang turut mengagumi karya Basoeki Abdullah, yang kemudian memberikan kesempatan pada Basoeki Abdullah untuk memamerkan lukisannya di Jaarbeurs. Kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin  oleh Basoeki Abdullah dengan membuat lukisan yang berjudul “Gatotkaca dan Antasena Sedang Memperebutkan Dewi Sembrada.” Menurutnya cerita dari lukisan tersebut akan dilihat sebagai sesuatu yang eksotis bagi orang-orang Eropa, sekaligus akan mematahkan dominasi pelukis-pelukis asing di Jaarbeurs.

Betul saja. Keyakinannya dan ucapan R.M Sosrokartono, menjadi kenyataan. Banyak pengunjung yang kagum dan terhipnotis oleh semburan api dan sambaran halilintar pada lukisan tersebut. Sekonyong-konyong seorang pengunjung asal Belanda menaruh uang sebesar seringgit di bawah lukisan tersebut, yang kemudian diikuti oleh para pengun jung lainnya, bahkan hingga berhari-hari. Walhasil, melalui pameran tersebut Basoeki Abdullah memperoleh uang dalam jumlah yang besar.

Lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena, yang dipamerkan Basoeki Abdullah pada Jaarbeurs Bandung, 1933.Lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena, yang dipamerkan Basoeki Abdullah pada Jaarbeurs Bandung, 1933.

Pameran Basoeki Abdullah di Jaarbeurs merupakan salah satu pameran awal yang turut menjadi tonggak dari awal karir lukis Beliau. Selang beberapa waktu, di tahun yang sama, Basoeki Abdullah pun bertolak ke Belanda, untuk menempuh pendidikan di Koninklijke Academie Van Beeldenden Kunsten, Den Haag, untuk menjadi pelukis andal. Lebih dari pada itu, melalui pameran tersebut Basoeki Abdullah menunjukan pada masyarakat Eropa di Bandung, bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang berkesenian dan berbudaya tinggi, sekaligus meningkatkan derajat pelukis-pelukis Indonesia di mata mereka.